|

Jihadnya Muslimah
Pengalaman
para Muslimah mempertahankan
keyakinanannya menutup aurat, adalah
'perjuangan' yang maha berat. Di
bawah ini sebuah kisah pengalaman
nyata mereka
Sabtu, 4 Maret 2006
Oleh: Al Shahida
Dalam perjalanan menuju Hackney,
London sebelah timur untuk sebuah
pertemuan. Dua sahabatku sibuk
membincang masalah jilbab.
"Saya heran.. kenapa
siih jilbab tetap hangat dan sangat
kontravesial dan masih banyak yang
pro dan kontra antara kita sendiri?
Saya tidak heran siih kalau yang
kontra adalah non, yang tak
hentinya meributkan soal jilbab, ya
engga sis?," kata sister Kosser yang
duduk disebelahku.
"Lah pendapatmu gimana sis?, " balas
Nazma yang duduk dibelakang bertanya
balik.
"Kamu sendiri sejak kapan pakai
jilbab ?"
"Baru Juli lalu tuuh..kami pulang
dari Haji bulan April, " jawab
Kosser.
"Ohhhh baru tokh...welcome to the
club," aku mengucapkan selamat
pada Kosser.
"Memang berat banget sih memulainya.
Jadi masalahnya memang musti ada
pemahaman dulu, gak bisa dipakasain
tuuh, " ujarnya.
"Jadi gimana tuuh mulanya sis?"
desak Nazma penasaran.
"Oh cukup panjang ceritanya sis, "
jawab Kosser sambil memutar badannya
kebelakang.
"Aku juga bingung sendiri padahal
aku khan sudah melakukan ibadah haji,
aku bener bener bingung loh, malah
perang batin dan stres sendiri.
sampai sepertinya aku mendzalimi
diri sendiri," tukasnya lagi.
"Oh begitu..lalu ditempat kerja
gimana, ada masalah ?" tanyanya
lebih penasaran.
"Tidak sih cuma banyak yang
terkesima bahkan ada yang agak sinis.
Tapi yang sinis malah orang kita
sendiri... huh dasar. Aku sudah siap
ko sis," menegaskan.
Sementara aku sibuk
mencari nama jalan, kebetulan memang
hari sudah cukup gelap. Percakapan
mengenai jilbab kian menghangat dan
terus berlangsung sampai rumah yang
kami cari kita kutemui. Kami parkir
pas didepan pintu gerbang.
"Ntar diterusin lagi ya sis
cerita soal jilbab, menarik sekali
tuuh," pintaku.
"OK sis pasti disambung. Ntar
ketemuan dong waktu lunch ke
kantorku, " ia mengundangku.
Kami tiba di rumah sister Amina yang
cukup lama menanti kedatangan kami.
Amina, Muslimah yang muallaf,
campuran antara Scottish dan
Carribean menyambut kedatangan kami.
Kami disuguhi minuman teh panas
English tea, yaitu teh dicampur susu
segar, lengkap dengan makanan kecil.
Petang itu kami rapat membincang
masalah pendataan dan merancang
'data base' bagi anak anak yatim
Indonesia yang akan dipadukan atau
dijodohkan dengan para calon orang
tua asuh atau donatur kami.
Rapatpun usai hingga pukul 10 malam,
usai itu makanan ala Carribean
dihidangkan oleh Amina beserta
suaminya Abdulkarim pengarang dan
author the 'The Shadow'. Satu
pekerjaan telah selesai, lalu kami
pamit dan pulang.
Seminggu kemudian....
Seperti yang pernah kita janjikan
aku akan datang memenuhi undangannya
sister Kosser, tapi kami ganti
menjadi sore, jam 5, usai kantor
untuk minum kopi. Kutemui di
kantornya yang megah itu..
Sister Kosser asli Pakistan.
Sosoknya tinggi semampai, satu
satunya Muslimah yang mengenakan
jilbab digedung CityGroups, gedung
yang bersebelahan dengan Menara
Canary Warf, Trade Centernya London,
pusat perdagangan, perbankan,
assuransi, finance dll-nya.
Kami mencari coffee shop
yang masih buka dan sudi melayani
kami. mengingat gedung ini melulu
perkantoran maka tak heran rata rata
warung kopi, kantin dan restoranpun
mulai menaikkan kursi kursi diatas
meja, pertanda warung akan ditutup.
Mulailah Kosser berceloteh tentang
asal muasal dia berjilbab.
"Sis.. pernah lihat film dokumentasi
tidak mengenai perjalan Haji..?" dia
memulai.
Aku mencoba
mengingatnya. Ooo.. aku baru sadar
kalau dia adalah pemerannya,
ternyata ia seorang selebriti
Muslimah.
"Ohh jadi itu kamu sis.. jadi kamu
sudah haji dong..?" Kosser
mengangguk diiringi senyum bangga.
"Tapiiiii...aku tertekan sendiri
sis, ada perang bathin dalam diriku!"
tambahnya lagi. Sambil menikmati
capuccino mulailah Kosser
berceloteh;
"Jadi...ceritanya disuatu pagi saat
saya bangun tidur, biasanya saya
langsung kekamar mandi ambil wudhu
untuk sholat subuh. Kali ini saya
duduk lama ditepi tempat tidur.
Merenung. Lalu saya bertanya pada
diri sendiri..kalau tiba tiba saya
mati gimana..?" itu yang terbetik
dibenak saya.
"Ya Allah! aku menarik napas dalam
dan saya sangat ketakutan, sedih dan
ngeri..saya sadar kalau saya belum
patuh pada perintahNya. Padahal pada
saat saya berhaji saya telah
berjanji untuk berserah diri. Lalu
saya kekamar mandi. Saya malah
menangis dikamar mandi, lama sekali
setelah itu saya keringkan air mata
barulah berwudhu.Saya menarik napas
dalam dan beristighfar", ujarnya,
lalu:
"Saya mencoba sholat subuh, memulai
takbir tapi koq hati rasanya hancur
luluh, saya tak paham.. akhirnya
saya kekamar mandi lagi mengulang
whudu, barulah saya bisa sholat
dengan khusu. Selesai sholat
kuberdoa dan minta ampun, aku
menangis sejadi jadinya. Maka
terjadilah suatu niat dan tekad. Aku
mau pake jilbab..that its..!".
Kosser melanjutkan ceritanya.
"Jadi sis..subuh itu saya bertekad
untuk mengenakan jilbab, hari itu
juga!. Setelah sarapan saya minta
izin sama suami mau ke kedai, saya
titip anak anak.." lanjutnya lagi.
"Lalu suami sempat bertanya; "Are
you ok?" suami agak curiga,
karena mungkin mataku agak sembab
dan wajahku nampak agak lain pula",
tambahnya.
"Ye..yeah I am fine..I am ok,"
sambil saya palingkan muka
berusaha menyembunyikan perasaanku".
Undangan Makan Siang
"Hari itu hari Ahad saya sekeluarga
diundang oleh bossku yang Amerika
untuk Sunday dinner, pukul 2
siang. Staff dikantor kami diundang
juga. Saya tak fikir panjang dan
langsung pergi kekedai untuk mencari
scarf yang akan saya pakai
hari itu.. kebetulan dimana kami
tinggal banyak sekali kedai-kedai
Muslim".
"Tahu enggak...saya sama sekali
enggak bilang sama suami, boro boro
minta izin" tambah Kosser. Aku kagum.
Aku terus mendengarkan ceritanya.
"Saya pilih 2 helai scarf
yang kusuka, lalu pulang kerumah.
Scartf kubiarkan dalam kantong
plastik. Saya bebenah rumah seperti
biasanya karena hari itu hari Ahad
lalu saya mengingatkan suami dan
anak anak bahwa kita akan pergi
kerumah boss agar mereka bersiap
siap. Akhirnya kami berangkat kesana".
"O..oo...what is going on. Are
you sure you wear that scarf?"
tiba-tiba suamiku bertanya penuh
keheranan ".
"Yeeep. I am positif and I am
decided to wear it, " jawabku
dan nampak suami memandangku penuh
heran.
Saat Kosser dan keluarga tiba
dirumah sang boss, tuan rumah tentu
saja sangat terperangah dengan
penampilan Kosser yang lain. Kosser
salah tingkah. Seakan semua orang
memberikan perhatian khusus dan
semua pandangan terarah padanya..
Atau apakah itu perasaaan Koser saja.
Kosser bisa membaca dari mata mereka
namun. Dia tak peduli.
Tuan rumah, sang boss menawarkan
minuman kepada mereka sebagaimana
layaknya tradisi Eropa. Tuan rumah
atau suami langsung menawarkan dan
membuatkan minuman sebelum tamu
duduk. Setelah masing masing
mendapatkan minuman berupa minuman
jus, lbarulah mereka mengambil
tempat duduk Dengan segera boss
menarik Kosser kedalam ruangan dan:
"What a surprise!...but tell me
Kosser..hhhhmmm..." beliau
menahan sesaat, Kosser berdegup,
deg-degan, sambil menanti reaksi
dan siap dengan pertanyaan.
"I know what you area going to
say..." ujar sister Kosser
diiringi senyum, sebelum ia ditanya
atau ditegur.
"Just tell me and confirm that
you are going to wear this scarf in
the office," tanya sang boss
sambil mencoba menangkap pandangan
pegawainya..
"Yes I am going to wear it and I
confirm this", jawab Kosser
tegas.
"I know you have performed your
hajj few months ago.Its ok for me as
long as I know so we know what to
expec t," sambil kedua tangannya
diangkat.
"Well Done! Congratulation! So
you decided ! Of course we support
you ...and full...remember that
". Bukan main Kosser merasakan
kebahagiaan saat itu.
Akhirnya Kosser memberikan
pencerahan tentang jilbab, tentang
apa yang terjadi pada nuraninya dan
tidak satu imampun yang
memerintahkan dia untuk mengenakan
jilbab, tidak pula suaminya. Sang
boss paham dan pengertian itu
merupakan support penuh bagi Kosser.
Kosser bekerja di kawasan Canary
Wharf, tepatnya di gedung CityGroup
menjabat sebagai Personal Asisstant
(PA) meladeni 12 manager dari
berbagai bangsa. Ia telah bekerja
disitu selama 12 tahun.
Menara Canary Wharf adalah gedung kebanggaan orang Inggris yang dibangun
diatas dockland (perairan
atau bekas pelabuhan) dengan
beratapkan bentuk Piramid. Diujung
atap ber-matakan satu yang berkedip
kedip selama 24 jam, nonstop.
Situsnya bisa diklik di
www.canarywharf.com
Betul saja pada hari pertama Kosser
mengenakan jilbab dan pada saat ia
menginjakkan kakinya digedung
Citygroups yang maha besar itu, ia
merasakan kejanggalan seakan dia
dipelototi oleh orang orang yang
berpapasan dengannya.
Reaksi mereka tentu
beragam. Dan yang paling
menyakitkan adalah pandangan sinis,
kurang menyenangkan datang dari
saudara sesama Muslim.
Dia memang satu satunya wanita
Muslimah pertama yang mengenakan
jilbab digedung itu.
Kosser selalu bangga
dengan jilbabnya dan bangga bahwa ia
telah mampu menaklukan nuraninya
yang selalu berperang antara ya dan
tidak.
Akhirnya helai kain
itu melekat dikepalanya. Dia ingin
sekali kalau langkahnya bisa diikuti
oleh para muslimah lainnya,
dikantornya yang berada di gedung
bergengsi itu, Canary Warf Tower,
semisal dengan Twin Tower di New
York tentunya.
Cerita lainnya
Lain dengan cerita Tayyiba dan Aisya
Alvi, dua sister yang juga sama
sama berasal Pakistan berprofesi
sebagai ‘Barrister’ atau
Pengacara.
Tayibba adalah
Barrister pertama Muslimah. Dan satu
satunya Muslimah pula yang
mengenakan jilbab pula ditempat
kerjanya.
Tak terbayangkan saat
dia harus menolak mengenakan wig
putih panjang hingga bahu (seragham
pengacara di Inggris) dengan
melepas jilbabnya. Akhirnya wig
tersebut ditaruh diatas jilbabnya.
Mereka tetap berjuang dan
mempertahankan hijab sebagai prinsip
dan identitas kemusliman mereka.
Karena mereka tahu hak mereka
sebagai warga Inggris yang bahkan
dilindungi oleh undang-undang. Tak
ada sedikitpun rasa takut, bahkan
ini dianggapnya sebuah perjuangan.
Demikian dengan brother Aqsa seorang
ahli farmasi bekerja di Guy
Hospital, London Bridge. Jilbab
buatnya tak ada masalah ditempat ia
bekerja. Temannya yang non malah
lebih respect dan selalu bertanya
tentang jilbab.
Atau sister Azizah, Advocate atau
lawyer sihitam manis turunan
Nigeria, anak mantan diplomat,
buatnya berjilbab bukan masalah
lagi. Bahkan jilbab merupakan
identitas Muslim, kalau kita tidak
mengenakannya malah akan
dipertanyakan oleh rekan atau
temannya yang non Muslim.
Dulu sebelum Azizah mengenakan
jilbab dia selalu dituntut oleh
temannya yang bukan Muslim. "Lho. ..
kamu Muslim koq enggak pake jilbab?"
tuntut mereka. Akhirnya Aziza
terdorong untuk memulai mengenakan
jilbab atau hijab.
Pernah brother Sonwara, seorang
asistent Artsitektur asal
Bangladesh, diinterview untuk
bekerja sebagai arsitektur, begitu
diterima langsung dia ditawari:
"Do you need a room for
praying... yes?" tanya si calon
boss.
"Yes please... thank you...but I
dont need the whole room just that
much" sambil tangannya
memberikan isyarat besarnya ruangan
yang ia perlukan untuk sholat. Dia
tidak merasakan adanya intimidasi,
sikap-sikap yang kurang nyaman atau
sikap sikap prejudis dari kolega dan
rekan kerjanya.
Tentu saja, baju yang mereka kenakan
disesuaikan dengan suasana
perkantoran seperti rok panjang atau
celana panjang dengan jas tiga
perempat hingga lutut. Tidak ketat.
Selagi busana itu
praktis, tidak membahayakn dirinya,
enak serta nyaman pula dikenakan dan
dipandang.......
London, 3
Maret 2006
|