|
RAMADHAN BULAN IBADAH
Alhamdulillah, segala puji dan
sanjungan hanya milik Allah semata.
Saat ini umat Islam tengah beroleh
nikmat yang agung dari-Nya, yaitu
bersua kembali dengan bulan Ramadhan
yang telah meninggalkannya setahun
yang lewat. Alhamdulillah, tak
henti-henti bibir ini memuji-Nya,
memohon bimbingan dan petunjuk-Nya
hingga diri ini tegak, sabar, dan
berhasil memetik maghfirah, barakah,
dan seluruh nikmat yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala sediakan bagi
hamba-Nya.
Menyambut Bulan Ramadhan
Umat Islam terbagi menjadi dua
golongan dalam menyambut kedatangan
Ramadhan :
1.
Mereka yang menyambut dengan suka
cita
Tak lain mereka adalah hamba-hamba
Allah Subhanahu wa Ta'ala
yang faham dengan pemahaman yang
bersih tentang syariat Allah,
sehingga tatkala Ramadhan menjelang
tibalah saat baginya untuk
menaburkan benih amalan
sebanyak-banyaknya dengan harapan
kelak di akhirat ia akan menuai
hasil yang berlipat. Hanya orang
Mukmin saja yang mampu bersikap
demikian. Mereka yakin apa yang
dijanjikan Allah Subhanahu wa
Ta'ala dalam Al Qur’an dan apa
yang dinyatakan Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
dalam hadits-haditsnya tentang
keutamaan bulan Ramadhan. Keyakinan
yang kokoh inilah yang memacu
semangat mereka berlomba dengan
saudaranya untuk mempersembahkan
amal shalih sebanyak-banyaknya
kepada Rabb-nya. Kaum Mukminin juga
paham bahwa kelezatan dunia bersifat
sementara, sehingga tatkala mereka
harus berpisah dengannya, tidak
menjadi murung dan bersedih serta
malas-malasan dan putus asa. Mereka
tahu bahwa kelezatan di akhirat
adalah abadi dan hakiki.
2.
Mereka yang menyambut Ramadhan
dengan berat hati
Mereka adalah hamba dunia dan budak
hawa nafsu. Mereka adalah manusia
yang ragu akan kabar gembira dan
ancaman dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Mereka terpedaya dengan
bisikan syaithan dan rayuan syahwat.
Naudzubillahi min dzalik.
Keadaan tersebut akan menjadikannya
malas dan loyo beribadah. Puasa
hanya berarti tidak makan, minum,
dan jima’ semata, tanpa
memperhatikan aspek-aspek lainnya,
berangkat shalat tarawih karena
terpaksa dan malu kepada tetangga
dan mereka melakukan perbuatan
sia-sia lainnya.
Ingatlah wahai saudaraku!
Hidupmu di dunia hanya sementara,
hidup yang abadi adalah di akhirat
kelak. Jika engkau malas melakukan
ketaatan, maka bekal apa yang engkau
bawa menuju rumahmu yang abadi? Jika
engkau berat hati dan terpaksa
melakukan kebajikan, maka amal apa
yang mampu menyelamatkan kamu dari
siksa neraka? Pikirkanlah dengan
hati lapang dan renungkan dengan
hati yang jernih! Semoga Allah
memberimu petunjuk.
Nasehat Bagi Keluarga Muslim Di
Bulan Ramadhan
Masyarakat Islam terdiri dari
kumpulan keluarga-keluarga Muslim.
Maka untuk mewujudkan tatanan
kehidupan masyarakat yang Islami
harus dimulai dari pembentukan
keluarga yang Islami, yaitu keluarga
yang tegak di atas syariat Islam.
Terwujudnya keluarga yang tegak di
atas Islam memerlukan proses yang
membutuhkan keuletan, keistiqamahan,
dan kesabaran dari semua pihak, baik
dari ayahnya, ibunya, dan
anak-anaknya. Bulan Ramadhan
merupakan saat yang tepat untuk
merintis dan memulai proses menuju
keluarga sakinah mawaddah wa
rahmah. Karena pada bulan ini
musuh bebuyutan manusia (yakni
syaithan) dipersempit geraknya,
dibelenggu oleh Allah Ta’ala :
“Jika datang bulan Ramadhan, maka
dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup
pintu-pintu Neraka, dan
syaithan-syaithan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tarbiyah Ilmiyah
Ingatlah wahai para orang tua akan
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
:
“Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu.”
(At Tahrim : 6)
Ayat ini merupakan landasan untuk
mengajari dan mendidik anggota
keluarga, menyuruh mereka kepada
ketaatan, dan amar ma’ruf nahi
munkar. Kepala rumah tangga (ayah
atau suami) mempunyai kewajiban
untuk mendidik dan membimbing istri
dan anak-anaknya menuju pemahaman
Islam yang benar. Kepala rumah
tangga harus dapat mencambuk
semangat keluarganya bila
didapatinya mereka malas dalam
melakukan ibadah ketaatan kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Janganlah seorang kepala rumah
tangga membiarkan dirinya menjadi
dayyuts, laki-laki banci yang
tidak berani menegur anak istri
ketika terjatuh dalam lumpur maksiat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam telah bersabda :
“Tiga golongan manusia, tidak akan
masuk Surga dan tidak akan dilihat
Allah pada hari kiamat yaitu anak
yang durhaka kepada orang tuanya,
wanita yang berlagak seperti
laki-laki dan menyerupainya, dan
dayyuts.”
(HR. Al Hakim, ia berkata sanadnya
shahih dan disepakati oleh Adz
Dzahabi. Dishahihkan oleh Asy Syaikh
Al Albani, lihat Hijab Al Mar’ah
Al Muslimah halaman 67)
Wahai saudaraku!
Hendaklah engkau pandai-pandai dalam
memilih waktu untuk memberikan
pendidikan kepada keluargamu. Dalam
bulan Ramadhan ini pendidikan bisa
dilakukan setelah makan sahur atau
buka puasa atau waktu-waktu yang
lain. Yang paling awal yang harus
kau ajarkan kepada keluargamu adalah
:
1.
Ma’rifatullah (pengenalan
yang benar terhadap Allah) mulai
dari tauhid Rububiyah, tauhid
Uluhiyah, sampai tauhid Asma’ wa
Shifat.
2.
Ma’rifah Ar Rasul (pengenalan
terhadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam) yaitu meliputi
seluruh aspek yang diteladankan oleh
beliau Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam (tidak hanya tahu hari
dan tanggal lahirnya, nama ayah dan
ibunya, serta kelahirannya semata).
3.
Ma’rifah Ad Din Al Islam (pengenalan
terhadap agama Islam) beserta
dalil-dalilnya.
Ketiga perkara tersebut merupakan
tonggak yang akan menopang tegaknya
pendirian kaum Muslimin di
tengah-tengah derasnya arus syubhat
dan syahwat.
Tarbiyah Amaliyah
Ada beberapa amalan shalih yang
menjanjikan pahala besar di sisi
Allah Subhanahu wa Ta'ala
pada bulan Ramadhan di antaranya :
a.
Puasa Ramadhan
Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman
diwajibkan atas kalian berpuasa,
sebagaimana telah diwajibkan atas
orang-orang sebelum kalian agar
kalian menjadi orang-orang yang
bertakwa.”
(Al Baqarah : 183)
Hendaklah para orang tua memberi
pengertian kepada anak-anaknya bahwa
puasa di bulan Ramadhan adalah wajib
dan berdosa bagi siapa saja yang
meninggalkannya tanpa udzur syar’i.
Untuk itu hendaklah meniatkan
puasanya hanya semata-mata mengharap
wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“Barangsiapa puasa Ramadhan dengan
iman dan benar-benar mengharapkan
pahala dari Allah, maka diampuni
dosa-dosanya yang lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Wahai saudaraku!
Ada beberapa hal yang dapat engkau
biasakan guna mendapatkan keutamaan
dari Allah Subhanahu wa Ta'ala
sekaligus sebagai upaya melatih
keluargamu di bulan Ramadhan ini :
- Mendahulukan berbuka
Imam Nawawi rahimahullah
dalam kitabnya Riyadlus
Shalihin membawakan beberapa
hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam yang mengisyaratkan
disunnahkannya mendahulukan berbuka
puasa, di antaranya :
“Selalu manusia itu berada dalam
kebaikan selama mereka menyegerakan
berbuka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sebelum berbuka ingatkanlah
keluargamu untuk berdoa sebagaimana
yang dicontohkan teladan kita
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
[ Dzahabadh Dhama’u wabtallatil
‘uruqu wa tsabatal ajru, insya Allah
]
“Telah hilang dahaga dan urat-urat
telah basah serta pahala akan tetap,
Insya Allah.”
(HR. Abu Dawud, lihat Hisnul
Muslim nomor 168, Shahihul
Jami’ 4/209)
Tegurlah mereka jika terlalu kenyang,
karena mereka belum menegakkan
shalat maghrib, kekenyangan dalam
makan akan mengganggu kekhusyu’an
dalam shalat.
- Mengakhirkan sahur
Terjadi pada sebagian keluarga
Muslim kebiasaan-kebiasaan yang
berkenaan dengan makan sahur ini.
Sebagian mereka tidak melakukannya
dengan sengaja, sebagian lagi
dikarenakan rasa malas bangun pada
akhir malam, maka mereka makan sahur
sebelum pergi tidur atau di tengah
malam. Dua kebiasaan tersebut
menyelisihi tuntunan Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
maka menjadi tanggung jawabmu wahai
para kepala keluarga untuk
mengingatkan keluargamu dan
membiasakannya dengan tuntunan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam. Perhatikan sabda beliau
berikut ini sebagai hujah bagimu
untuk membimbing keluargamu.
“Perbedaan antara puasa kami dan
puasa ahli kitab yaitu makan sahur.”
(HR. Muslim 1096)
“Bersahurlah kalian, karena dalam
sahur itu terdapat barakah.”
(HR. Muslim 1095)
Dua hadits di atas sebagai bantahan
atas mereka yang meninggalkannya,
sedang sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
yang diriwayatkan dari Anas
radhiallahu 'anhu berkenaan
dengan sunnahnya mengakhirkan sahur
adalah :
“Kami sahur bersama Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
kemudian kami bangkit untuk shalat.
Aku katakan kepadanya : ‘Berapa lama
antara keduanya?’ Ia menjawab :
‘(Kira-kira orang membaca) lima
puluh ayat’.”
(HR. Muslim 1097)
- Tidak boros dalam makan
dan minum
Berlebih-lebihan adalah perkara yang
mendatangkan kebencian dari Allah
Subhanahu wa Ta'ala, karena itu
hendaklah para ibu rumah tangga
bersikap sederhana, meskipun di
siang hari tidak ada anggaran
belanja yang dikeluarkan, namun
janganlah menyusun anggaran belanja
yang membengkak di sore hari.
b.
Qiyamul Lail (Shalat Tarawih)
Qiyamul lail merupakan salah satu
bentuk ibadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang sangat
berkesan dan membawa dampak positif
bagi yang membiasakannya. Di bulan
Ramadhan, shalat malam (yang kita
kenal dengan shalat tarawih)
merupakan amalan yang sangat
dianjurkan, sampai kepada kita sabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam :
“Barangsiapa melakukan shalat malam
pada bulan Ramadhan dengan iman dan
mengharapkan pahala, maka diampuni
dosa-dosanya yang lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan seorang ayah (suami) sangat
penting bagi anak dan istrinya untuk
membiasakan amalan ini. Di mana ia
harus menjadi teladan di
tengah-tengah keluarganya.
Merupakan pemandangan yang sering
kita lihat di bulan Ramadhan yaitu
ayah, ibu, dan anak-anaknya
berangkat bersama menuju masjid
melakukan shalat.
Ada beberapa hal yang harus engkau
perhatikan wahai para pembina
keluarga!
1.
Shalat tarawih hukumnya adalah
sunnah bukan wajib, maka janganlah
berkeyakinan wajibnya shalat tarawih,
sehingga tatkala kalian terluput
darinya penyesalan kalian lebih dari
bila kalian terluput dari shalat
fardlu yang lima. Karena itu ajari
dan pahamkanlah keluargamu tentang
masalah ini, bahwa shalat lima waktu
adalah wajib sedang shalat tarawih
adalah sunnah.
2.
Allah dan Rasul-Nya mensyariatkan
afdhalnya shalat tarawih berjamaah
bersama imam di masjid, maka
bimbinglah keluargamu untuk tunduk
kepada syariat. Akan tetapi perlu
diingatkan kepada para ibu dan
remaja putri bahwa shalatnya di
rumahnya lebih baik baginya daripada
shalatnya di masjid kaumnya,
sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“ … shalatmu di bilikmu lebih baik
dari shalatmu di rumahmu, shalatmu
di rumahmu lebih baik dari shalatmu
di masjid kaummu dan shalatmu di
masjid kaummu lebih baik dari
shalatmu di masjidku (masjid Nabawi).”
(HR. Ibnu Khuzaimah dan dihasankan
oleh Asy Syaikh Al Albani)
Namun jika mereka ingin tetap shalat
berjamaah di masjid, maka nasehatkan
kepada mereka adab-adabnya, di
antaranya :
- Keluar bersama mahramnya,
demikian pula ketika kembali, maka
haram bagi wanita keluar disertai
laki-laki asing.
- Tidak tabaruj, berhias
ala jahiliyah, menguraikan rambutnya
dengan menenteng mukenanya, akan
tetapi wajib baginya berbusana
sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
- Tidak memakai minyak
wangi.
- Segera pulang setelah
shalat selesai, tidak duduk-duduk
dan ngobrol di dalam masjid, atau
jalan-jalan dengan bergerombolan.
Hal ini adalah terlarang karena akan
menimbulkan fitnah.
3.
Meskipun shalat malam ini hukumnya
sunnah, namun tetaplah engkau
memberikan semangat kepada istri dan
anakmu untuk melakukannya,
dikarenakan keutamaannya yang besar
di sisi Allah.
“Seutama-utama shalat setelah shalat
fardlu adalah shalat malam.”
(HR. Muslim 1163)
4.
Biasakanlah dirimu dan keluargamu
untuk berdoa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala baik di
dalam shalat malam atau sesudahnya,
karena Allah Subhanahu wa Ta'ala
akan mengabulkan doa dan permintaan
hamba-Nya. Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Rabb kami Yang Maha Agung dan
Tinggi turun di setiap malam ke
langit dunia, ketika malam tersisa
sepertiga yang akhir. Kemudian Dia
berfirman : ‘Barang siapa berdoa
kepada-Ku pasti akan Ku-kabulkan,
barangsiapa meminta kepada-Ku, pasti
Aku akan memberinya, barangsiapa
memohon ampunan-Ku pasti Aku akan
mengampuninya.”
(HR. Bukhari nomor 7494 dan Muslim
nomor 758)
c.
Tilawatul Qur’an dan Dzikrullah
Amal shalih lainnya sebagai cahaya
penerang di setiap rumah keluarga
Muslim adalah membaca Al Qur’an dan
berdzikir kepada Allah, dua perkara
yang ringan di bibir tetapi amat
berat timbangannya kelak pada Yaumul
Mizan.
Berkaitan dengan membaca Al Qur’an
ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam bersabda :
“Bacalah Al Qur’an karena ia akan
datang pada hari kiamat sebagai
pembela bagi ahlinya.”
(HR. Muslim nomor 804)
Kesempatan emas bagi kalian, wahai
para ibu! Yaitu engkau ajarkan
Kalamullah ini kepada anak-anakmu di
sela-sela kesibukanmu, niscaya
engkau akan menjadi manusia yang
terbaik dengan ketekunan dan
kesabaranmu membimbing anak-anakmu
membaca dan menghapal ayat-ayat-Nya.
Bergembiralah dengan sabda
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam berikut ini :
“Sebaik-baik kalian ialah yang
belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari nomor 5027, Abu Dawud
dalam Sunan-nya nomor 1452
dan Tirmidzi nomor 2909)
Selain engkau ajarkan Al Qur’an
kepada anak-anakmu, maka tak kalah
pentingnya adalah engkau biasakan
lidah mereka selalu basah dengan
dzikrullah untuk menepis
kebiasaan-kebiasaan jelek yang
beredar di sekitarmu. Ingatkan dan
bacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
hadits-hadits Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,
di antaranya :
“ … laki-laki dan wanita yang banyak
menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan
pahala yang besar.”
(Al Ahzab : 35)
“ … dan ingatlah kepada Allah
sebanyak-banyaknya, agar kalian
beruntung.”
(Al Jumu’ah : 10)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang
menjelaskan keutamaan dzikrullah.
Adapun dari sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di
antaranya :
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman : ‘Aku bersama hamba-Ku
selama dia mengingat Aku, dan kedua
bibirnya bergerak (untuk berdzikir)
kepada-Ku.’ ”
(HR. Ibnu Majah nomor 3792 dan
dishahihkan Asy Syaikh Al Albani
dalam Shahih Sunan Ibnu Majah
nomor 3792)
“Tidaklah suatu kaum duduk untuk
mengingat Allah ‘Azza wa Jalla,
melainkan mereka dinaungi oleh para
malaikat dan diliputi oleh rahmat,
diturunkan kepada mereka ketenangan
dan Allah menyebut-nyebut mereka di
hadapan para malaikat-Nya.”
(HR. Muslim nomor 2700)
Cukuplah kiranya dua hadits ini
sebagai landasan bagimu untuk tetap
membasahi bibirmu dengan dzikrullah
dan sebagai pemacu bagimu untuk
tekun dan telaten membimbing
anak-anakmu untuk senantiasa
berdzikir kepada Allah.
d.
Istighfar dan Taubat
Istighfar adalah memohon ampunan
yakni penjagaan dari jeleknya dosa
dan menutupinya (dari dosa-dosa
tersebut).
Allah ‘Azza wa Jalla
memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk
istighfar sekaligus memuji hamba
yang mau memohon ampunan kepada-Nya.
“Dan mintalah kalian ampunan kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Al Muzammil : 20)
“Dan hendaklah kalian meminta ampun
kepada Tuhanmu dan bertaubat
kepada-Nya.”
(Hud : 3)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“Wahai manusia bertaubatlah kepada
Allah dan istighfarlah kepada-Nya,
maka sungguh aku bertaubat seratus
kali setiap hari.”
(HR. Muslim nomor 2702)
Pintu taubat tetap terbuka hingga
matahari terbit dari barat.
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum
matahari terbit dari barat maka
Allah akan menerima taubatnya.”
(HR. Muslim nomor 2703)
Sedang orang yang tidak mau taubat
merekalah orang-orang yang dhalim.
“Dan barangsiapa yang tidak
bertaubat, maka mereka itulah
orang-orang yang dhalim.”
(Al Hujurat : 11)
e.
Shadaqah
Jadikanlah bulan Ramadhan ini untuk
memperbanyak shadaqah dan infaq fi
sabilillah, karena Allah
Subhanahu wa Ta'ala mencintai
hamba-Nya yang dermawan, murah hati,
dan selalu terbuka tangannya untuk
memberi. Namun hendaknya engkau
perhatikan wahai kepala keluarga
bahwa syarat diterimanya shadaqah
adalah dari usaha yang halal!
“Sesungguhnya Allah itu Maha Bagus,
Allah tidak akan menerima kecuali
yang bagus (halal).”
(HR. Muslim nomor 1015)
Maka hendaknya kalian mampu menahan
diri dari usaha-usaha yang haram,
niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala
akan menyelamatkan diri kalian dari
jeleknya dosa. Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
bersabda :
“Dan shadaqah itu bisa memadamkan
kesalahan (dosa) sebagaimana air
memadamkan api.”
(HR. Tirmidzi nomor 2616, ia berkata
hadits hasan shahih dan dishahihkan
oleh Asy Syaikh Al Albani dalam
Shahih Sunan Tirmidzi nomor
2110)
f.
Menyambut Lailatul Qadar
Di antara keutamaan bulan Ramadhan
adalah adanya Lailatul Qadar (lihat
pembahasannya dalam rubrik
“Kajian Kali Ini”).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam juga menganjurkan kepada
umatnya agar memperbanyak amal-amal
kebaikan pada 10 hari terakhir dari
bulan Ramadhan.
Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu
'anhuma mengabarkan :
“Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam, bila masuk malam-malam
sepuluh yang terakhir dari bulan
Ramadhan, (beliau) menghidupkan
malam, membangunkan keluarganya dan
mengencangkan ikat pinggangnya (yakni
tidak menggauli istri-istrinya,
pent.).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup
Wahai saudaraku! Semoga Allah
merahmatimu. Itulah beberapa amal
shalih yang hendaknya kita hidupkan
di rumah-rumah kita, kita jadikan
amalan tersebut sebagai aktifitas
seluruh anggota keluarga kita, dan
mudah-mudahan ini merupakan langkah
awal yang mendapat keridlaan Allah
untuk melangkah selanjutnya. Sebagai
penutup risalah ini akan disebutkan
beberapa hal sebagai peringatan bagi
kita semua kaum Muslimin yang
mendambakan ridla dan Surga Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
1.
Jangan bermalas-malasan di bulan
mulia ini, jangan memenuhi hari
dengan tidur mendengkur sepanjang
siang hingga shalat jamaah
terlewatkan, membaca Al Qur’an
terlupakan. Kalau ada yang berdalih
dengan hadits :
“Orang yang berpuasa tetap di dalam
ibadah meskipun dia tidur di atas
tempat tidurnya.”
(HR. Ad Dailami)
Ketahuilah! Bahwa hadits tersebut
adalah dlaif bahkan maudlu’ (palsu)
dikarenakan adanya rawi yang bernama
Muhammad bin Ahmad bin Suhail. Dia
adalah pemalsu hadits (lihat kitab
Silsilah Ahadits Dlaif wal
Maudlu’ah nomor 653).
2.
Untuk para ibu atau remaja putri,
dibolehkan mencicipi makanan untuk
mengetahui asin atau manisnya,
dengan syarat tidak menelannya
meskipun hanya sedikit. Sebagaimana
yang dinyatakan oleh Abdullah bin
Abbas radhiallahu 'anhuma :
“Tidak mengapa mencicipi cuka atau
sesuatu selama tidak masuk ke
kerongkongannya, sedang dia dalam
keadaan puasa.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah 3/47 dan
Baihaqi 4/261 dengan sanad hasan.
Lihat Shifat Shaum Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
halaman 55)
3.
Bagi para suami, boleh mencium
istrinya dan bersenang-senang
dengannya dengan syarat kuat menahan
syahwatnya (tidak sampai bersetubuh
dengan istrinya). Berkata Aisyah
radhiallahu 'anha :
“Adakalanya Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam mencium dan
bersenang-senang dengan istrinya
sedang beliau berpuasa, dan beliau
sangat kuat menahan syahwatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim, lihat Al
Lu’lu’ wal Marjan nomor 676)
Jika engkau dapat berbuat seperti
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam maka lakukanlah, namun
jika engkau termasuk laki-laki yang
mudah bangkit syahwatnya maka
tinggalkanlah perbuatan tersebut
untuk sementara, dan bisa kau
lakukan di malam harinya.
Hati-hatilah dari perkara ini,
karena jika engkau terpeleset
sungguh besar akibatnya yaitu wajib
bagimu membayar kafarah yang telah
ditetapkan oleh syariat dan wajib
mengqadla’ puasa.
4.
Kuperingatkan bagimu wahai para
orang tua, yaitu awasi kegiatan
anak-anakmu di bulan Ramadhan. Jika
mereka melakukan perbuatan
sebagaimana yang dilakukan oleh
sebagian dari muda-mudi Islam saat
ini, seperti berjalan-jalan selepas
shalat Shubuh, atau ngobrol di
masjid dengan lawan jenisnya secara
berkelompok-kelompok atau bahkan
hanya berdua atau
kebiasaan-kebiasaan lainnya yang
melanggar syariat, maka wajib bagimu
untuk menegurnya, memperingatkannya,
dan mengancamnya dengan ancaman
adzab yang dahsyat di sisi Rabb-nya.
Berilah mereka kesibukan-kesibukan
yang mendidiknya, seperti menghapal
ayat-ayat Al Qur’an atau
hadits-hadits Nabi atau perbuatan
khair lainnya yang akan mendatangkan
manfaat dan menolak madlarat.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa
Ta'ala senantiasa menolongmu dan
kita semua menuju ketaatan
kepada-Nya.
Mudah-mudahan tulisan ini menjadi
amal shalih yang ikhlas hanya untuk
Allah Subhanahu wa Ta'ala
semata dan mendatangkan manfaat bagi
kita semuanya. Amin
Wallahu A’lam Bis Shawab.
Oleh
: Abu Umar” Ubadah
|